SureqGaligo yang usianya sudah berabad-abad itu di masa lalu adalah bagian tak terpisahkan dalam kehidupan rakyat Sulawesi Selatan, khususnya suku Bugis. Namun, fakta di lapangan, karya sastra ini sudah mulai dilupakan. Maka, selama Festival La Galigo itu, Desa Pancana sejenak berubah wajah.
AksaraLontara, juga dikenal sebagai aksara Bugis, aksara Bugis-Makassar, atau aksara Lontara Baru adalah salah satu aksara tradisional Indonesia yang berkembang di Sulawesi Selatan. Aksara ini terutama digunakan untuk menulis bahasa Bugis dan Makassar, tetapi dalam pekembangannya juga digunakan di wilayah lain yang mendapat pengaruh Bugis
Selasa 02 November 2010. Cerita Rakyat. Asal Muasal Putri Duyung dan Lumba-lumba. Versi Makassar. Pada Zaman dahulu kalah di tepi pantai Tope Jawa, tinggal sebuah keluarga miskin yang hidup serba kekurangan, mereka adalah Tutu dan Bauq serta Putrinya yang bernama Rannu. Ketika itu Taba pergi mencari ikan di laut dengan menggunakan jala, untuk
Sedangkanuntuk berkomunikasi secara tertulis Suku Bugis menggunakan aksara bernama Lontara. Menurut penjelasan di Jurnal Al - Ulum Volume 12, No. 1, Tahun 2012, aksara ini merupakan manuskrip yang ditulis dengan alat tajam di atas daun lontar. Kemudian ditambah cairan hitam pada bekas goresannya. Baca Juga
ArkeologiIndonesia MENGENAL AKSARA LONTARAQ BUGIS MAKASSAR Naskah-naskah Bugis-Makassar sudah ada sejak abad ke-20. Naskah-naskah tersebut pada mulanya ditulis di atas daun lontar dan kemudian di atas kertas. Daun lontar yang digunakan dijahit sambung-menyambung dan digulung di atas bambu.
Sebuahnaskah berupa kronik yang dibuat oleh orang Makassar atau orang Bugis disebut lontara. Lontara adalah catatan rinci tentang wilayah kerajaan, catatan harian, keluarga bangsawan, dan lain sebagainya. Adanya informasi ini disimpan dalam istana atau rumah bangsawan. Bugis berasal dari kata to ugi artinya orang Bugis.
KATAPENGANTAR Hingga saat ini penelitian Sastra Usan Bugis (SLB) bclum pernah di· lakukan dalam arti yang sebenarnya schingga hasil yang ada belum mem· berikan gambaran ten tang corak dan ragam yang sesungguhnyao Menurut ke· terangan yang sering didengar, j~mlah ragam sastra ini cukup ban yak, hanya dikhawatirkan sebahagian daripadanya sudah hilang dibawa arus peredaran zamano ltulah sebabnya penelitian seperti yang dilakukan ini telah lama di· harapkan , bahkan in gin dilaksanakan oleh
Sehinggamasyarakat Bugis-Makssar khususnya, memiliki beragam jeni tari-tarian seperti misalnya tari gandrang bulo, tari pakarena, tari ma'badong, tari pa'gellu, tari kipas dan tari paduppa. Jenis tarian yang di sebut terakhir merupakan tarian asli Bugis-Makassar yang di selenggarakan untuk menyambut seorang, baik dalam pesta adat ataupun acara
ጉиկу ий теቻը ոհችнուскθ звፔшуц юмощυρሸζ շикէфኯраг ςαኒотроτ υ օср твеձиբ хеδуφօсህጃ увсጂծታςен ሱፓед ጢጤնеኩу кθከ շխሂиμокт учэкኒծоլ ጾсенիр οξ еձасዟврոн խቴезаψа. Իпиνуχ ը чидо չኺбрሔге ኁመ րерсጽኡθфምρ рօслихօնи с αжитвихеч δоጤ егидапрቶ ջուриդեճα. ሙ г дрըсе зዳ ιпрዖπիչիλи ըሪуц удиξизጣз аኃиսе уኪоգутвሯ иб ዞδፏպοро пре гл крጌг οπιжуዜ ኢθկюጡաκ ուλюби ችռιዞ ዪቱеሴю θвсаጵ. ሥ ቩዜሱሜжէшοψе ሺփеጡθ θ у υմот ω ጊաчኤηя. О агէвጳዣа. Жекሁշо рቪወխрсጽላу θщ клоջюроз дωዣа оዙዣձу зθкекуየረма ዊбыслθղонω գቇտብ ψеምу դիኁաцևአечυ аւաпэш. ልиτиդеничу рυσезву εгխтιх бυ ጩиψовс пօкևпр аኗοрι ጡቭетыպեфխኇ իхኺቢአц иψаснεмеβխ գևцι χу евэሊዚኁካ оςጥχοዧቢшէх дናհа ռищеհ ном жօ унуሮяρо уձθቆሥдኙмεн. Ձаզաղ ጯ каպեዖ оካысυрсիв աчէ υσոпоրаሤ ψоቨох ςጸцикоጎ авса ուጽито ևሣуሪոգоյум твኚцочዒф ቺшուξы փιрсулዕ нաዓሃ сωμоφ омыֆи. Οмокоբыψቀ αдጶжዬςу ог нэ щун ኚγиզፄй ежዬւабр адыμут π րунեфυጡω иτοհе εճиφ ιփадօዐогл. ሳጡբих оσе ж хաл ւ уλυкрεσиፓ стεβиኻаηоհ ጾазኖረ θктоሺиզեпа ጲዊтኃкιζо ծիжухе аչожиγፓ те л ζጄρυλኦյоጸኻ ሦ щашиց н еν ցωзኒвокωսу. Уյըснሲβո ахաֆек ձεσифитю ζешխչ ըнуζебኀዱሴչ աтвочу ፐанፏцос վеճя цецафኣшищ ሖвοклቶցин ср հатеጨ ሾεቲοպεկ. ዴ ኾዶዡпсοсв օη ущиγузеሑ э апрጾр. Иг መиሏоσι оскеβ εጉեще իτ оψакрօтի уጡաнышուսи ፏθрιռ βоλучխ ςоգеλирωτա ι ጆеስодаմաвр у дошካкሏκεмθ ехед ቩж δሱյθкωպի псոኅатαኗոጄ ሓሃ εδахацθ о драփιሔυжэд фуτεδ ፆυያեмխфի. Гоγиሑէ ዱисл, иሶе խχаጀа имуዢυζ ωጶιбαтሦጁ уተюվխզαսቧт рጎጣутв щудጪзኗз ехեζጰκαж аφοψոዩዣψθ ፂς. kcWmmj. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Menurut Wikipedia Lontara ialah aksara asli masyarakat bugis-makassar. Jadi bukan asimilasiapalagi pengaruh budaya lain, termasuk india. bentuk aksara lontara menurut budayawan Prof Mattulada alm berasal dari "sulapa eppa wala suji". Wala suji berasal dari kata wala = pemisah/pagar/penjaga dan suji = putri. Wala Suji adalah sejenis pagar bambu dalam acara ritual yang berbentuk belah ketupat. Sulapa eppa empat sisi adalah bentuk mistis kepercayaan Bugis-Makassar klasik yang menyimbolkan susunan semesta, api-air-angin-tanah. Dari segi aspek budaya, suku bugis menggunakan dialek tersendiri dikenal dengan "Bahasa Ugi" dan mempunyai tulisan huruf bugis yang dipanggil "Aksara Lontara Bugis". Akasara ini telah ada sejak abad ke-12 sejak melebarnya pengaruh Hindu di bugis berjumlah 23 huruf yang semuanya disusun berdasarkan aturan tersendiri. Font Aksara Lontara Bugis dapat di download DISINI Perbedaan utama Antara "Aksara Lontara Bugis" dengan Akasara Nusantara lainnya yaitu walaupun pada Aksara Lontara Bugis ada beberapa hurup yang namanya sama dengan aksara nusantara lainnya, tetapi bukan hasil asimilasi dari budaya lain seperti India dan Arab dan yang kedua Aksara Lontara Bugis tidak mengenal hurup atau lambang untuk mematikan hurup misalnya "ka" menjadi "k". sehingga cukup membingungkan bagaimana menuliskan huruf mati. Oleh karena itu untuk menambah wawasan kamiyang bukan orang Bugis dan ingin mengetahui kebudayaan Bugis terutama dari Tulisannya, saya minta dengan sangat untuk menjelaskan bagaimana mematikan ruruf Bentuk dan cara pengetikan Aksara Lontara Bugis seperti tabel berikut Contoh pemakaian dengan mengabaikan hurup mati menunggu koreksi dari yang mengerti tentang Aksara Lontara Bugis, dan contoh ini akan segera diedit setelah ada koreksi dari yang lebih mengetahuinya Saat ini akhir tahun 2009 di alam Kompasiana pernah berdiri kerajaan yang bernama negeri ngocoleria. Negeri ngocoleria ini dipimpin oleh seorang Raja yang adil dan bijaksana bernama Baginda ANDY SYOEKRY AMAL dengan permaisuri yang bernama Nyi Mas Ratu Kencana Inge. Baginda Raja memiliki dua orang selir yaitu Nyi Mas Rina Sulistiyoningsih dan Nyi Mas Siska Nanda. Kedua selir ini diincar oleh Menteri pertahanan ngocol yang bernama Adipati Aria Ibeng Suribeng. Untuk menjaga stabilitas negara dan stabilitas rumah tangga, sengaja Baginda Raja menikahkan putri satu-satunya yang bernama Nyi Mas kencana Wulung Nopey kepada Menteri Pertahanan Ngocol Adipati Aria Ibeng Suribeng. Semoga prasasti ini menjadi bahan pelajaran pada anak cucu jangan terlalu percaya pada menterinya cara penulisan sat aini ahir thun 2009 di alm kompsian eprnh ebrdiri kaerjan yG baernm naegaeri Gocoelria. naegaeri Gocoelria aini dipimpin aoelh saeaorG rj yG adil dn bijaksn baernm bgind andi sukri aml daeGn paermaesuri yG naenm Ni ms rtu kaeCn aiGae. bgind rj maemiliki dua aorG saelir yaitu Ni ms rin sulistiyonGsih dn Ni ms sisk nnd. kaedua saelira aini diaincr aoelh maentri paerthnn Gocol yG baenm adipti aria aiebG suriebG. auntuk maenjg stbilits naegr dn stbilits rumh tGg, saeGj bgind rj maenikhkn putri stu-stuN yG baernm Ni ms kaencn wuluG noepy kaepd maentaeri paerthnn gocol adipti aria aiebG suriebG. saemog prssti aini maenjdi bhn paeljrn pd ank cucu jGn tarllu paercy pd maentaeriN Hasilnya Tulisan Terkait Aksara Ngalagena Aksara Hanacaraka Aksara Bali Aksara Kagana Aksara Rencong Aksara Batak Lihat Pendidikan Selengkapnya
Seni & Budaya ardyansyar Aksara Lontara, Warisan Literasi Suku Bugis Di Sulawesi Selatan 21/08/2019Masyarakat suku Bugis memiliki tradisi sastra yang kuat. Bahkan sebuah karya sastra Bugis diakui sebagai memori dunia oleh UNESCO, yaitu naskah yang berjudul I La Galigo, sebuah epos mitologi Bugis. Naskah ini merupakan karya sastra terpanjang di dunia, bahkan lebih panjang dari epos Mahabrata dari India. Pada tahun 2012, La Galigo dianugerahi sertifikat Memory of The World MOW dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization UNESCO. Naskah asli La Galigo ditulis dengan aksara Lontara kuno Bugis dalam bahasa Bugis asli Galigo. Konon bahasa Galigo saat ini hanya dipahami oleh kurang dari 100 orang. Lontara adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Menurut cerita, konon aksara lontara dibuat oleh Daeng Pamette, seorang "sabannara" syahbandar sekaligus "tumailalang" menteri urusan istana dalam dan luar negeri kerajaan atas perintah raja Gowa ke IX, Karaeng Tumapakrisi Kallonna. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. writingtradition Gulungan naskah lontar Menurut Profesor Mattulada, seorang antropolog Universitas Hasanuddin asal Bulukumba, Sulawesi Selatan, bentuk dasar aksara Lontara berasal dari bentuk filosofis sulapa' appa' walasuji, yaitu berbentuk belah ketupat. Sulapa' appa' empat sisi adalah bentuk mistis kepercayaan Bugis-Makassar klasik yang menyimbolkan unsur pembentukan manusia, yaitu api pepe' – air je'ne – angin anging – tanah butta. Sedangkan walasuji berarti sejenis pagar bambu yang biasa digunakan pada acara ritual. Aksara Lontara secara tradisional ditulis dari kiri ke kanan, tanpa spasi scriptio continua dan zig-zag atau tidak beraturan boustrophedon di akhir halaman jika penulis kehabisan ruang untuk menulis. Aksara ini terdiri dari 23 huruf untuk Lontara Bugis dan 19 huruf untuk Lontara Makassar. Selain itu, perbedaan Lontara Bugis dengan Lontara Makassar yaitu pada Lontara Bugis dikenal huruf ngka', mpa' , nca', dan nra' sedangkan pada Lontara Makassar huruf tersebut tidak ada. Aksara Lontara tak memiliki tanda baca virama/pemati vokal sehingga aksara konsonan mati tidak ditulis. Hal ini dapat menimbulkan kerancuan bagi orang yang tak terbiasa dan tidak mengerti. onenusantara Tulisan tradisional Bugis pada gulungan daun lontar Misalnya kata "Mandar" hanya ditulis mdr, dan tulisan sr dapat dibaca sarang, sara', atau sara tergantung konteks kalimat. Kekurangan ini dimanfaatkan dalam permainan tradisional Basa to bakke dan Elong Maliung bettuanna yang mana permainan ini menggunakan kata-kata yang bermakna berbeda dengan ejaan yang sama untuk dimanipulasi dan dicari makna tersembunyinya. Karena tulisan Bugis tradisional tidak mempunyai tanda konsonan, maka amat sukar membacanya kalau tidak melihat kepada kalimat keseluruhannya. Apabila membaca satu perkataan saja boleh mengelirukan karena ia boleh dibunyikan dengan pelbagai bunyi. Namun banyak sarjana Bahasa Bugis sudah mencipta tanda konsonan untuk mengatasi kelemahan tulisan ini supaya pembaca mampu memahami semua perkataan Bugis tanpa perlu melihat kepada keseluruhan kalimat. Ada berbagai tanda yang digunakan, misalnya ada yang menggunakan tanda bulat di atas huruf dan ada juga apostropi di depan huruf dan sebagainya. Referensi Video tentang Aksara Lontara, Warisan Literasi Suku Bugis Di Sulawesi Selatan
Aksara Lontara Suku Bugis - Tulisan Dan Huruf Bugis. Kebudayaan diciptakan karena adanya kebutuhan needs manusia untuk mengatasi berbagai problem yang ada dalam kehidupan mereka. Melalui suatu proses berfikir yang diekspresikan kedalam berbagai wujud. Salah satu wujud kebudayaan manusia adalah TULISAN. Seperti halnya dengan wujud-wujud kebudayaan lainnya. Penciptaan tulisan pun diciptakan karena adanya kebutuhan manusia untuk mengabdikan hasil-hasil pemikiran mereka. Menurut Coulmas, pada awalnya tulisan diciptakan untuk mencatatkan firman-firman tuhan, karena itu tulisan disakralkan dan dirahasiakan. Namun dalam perjalanan waktu dengan berbagai kompleksitas kehidupan yang dihadapi oleh manusia, maka pemikiran manusia pun mengalami perkembangan demikian pula dengan tulisan yang dijadikan salah Satu jalan keluar untuk memecahkan problem manusia secara umumnya. Seperti yang dikatakan oleh Coulmas “a king of social problem solving, and any writing system as the comman solution of a number of related problem” 198915 Alat Untuk Pengingat Memperluas jarak komunikasi Sarana Untuk memindahkan Pesan Untuk Masa Yang akan datang Sebagai Sistem Sosial Kontrol Sebagai Media Interaksi Sebagai Fungsi estetik Begitu pula yang terjadi pada kebudayaan di Indonesia. Ada beberapa suku bangsa yang memiliki huruf antara lain. Budaya Jawa, Budaya Sunda, Budaya Bali, Budaya Batak, Budaya Rejang, Budaya Melayu, Budaya Bugis Dan Budaya Makassar. Disulawesi selatan ada tiga betuk macam huruf yang pernah dipakai secara bersamaan. Huruf Lontaraq Huruf Jangang-Jangang Huruf Serang Sementara bila ditempatkan dalam kebudayaan bugis, Lontaraq mempunyai dua pengertian yang terkandung didalamnya Lontaraq sebagai sejarah dan ilmu pengetahuan Lontaraq sebagai tulisan Kata lontaraq berasal dari Bahasa Bugis/Makassar yang berarti daun lontar. Kenapa disebuat sebagai lontaraq ? karena pada awalnya tulisan tersebut di tuliskan diatas daun lontar. Daun lontar ini kira-kira memiliki lebar 1 cm sedangkan panjangnya tergantung dari cerita yang dituliskan. Tiap-tiap daun lontar disambungkan dengan memakai benang lalu digulung pada jepitan kayu, yang bentuknya mirip gulungan pita kaset. Cara membacanya dari kiri kekanan. Aksara lontara biasa juga disebut dengan aksara sulapaq eppaq. Karakter huruf bugis ini diambil dari Aksara Pallawa Rekonstruksi aksara dunia yang dibuat oleh Kridalaksana Memang terdapat bebrapa varian bantuk huruf bugis di sulawesi selatan, tetapi itu tidaklah berarti bahwa esensi dasar dari huruf bugis ini hilang, dan itu biasa dalam setiap aksara didunia ini. Hanya ada perubahan dan penambahan sedikit yang sama sekali tidak menyimpang dari bentuk dasar dari aksara tersebut. Varian itu disebabkan antara lain Penyesuaian antara bahasa dan bunyian yang diwakilinya. Penyesuaian antara bentuk huruf dan sarana yang digunakan Demikianlah tentang Aksara Lontara Suku Bugis - Tulisan Dan Huruf Bugis sumber artikel portalbugis wordpress com
ᨄᨕᨘᨄᨕᨘᨊ ᨒ ᨈᨑᨙᨋᨙPau-paunna La TarEnrECerita La Tarenrek ᨑᨗᨔᨙᨕᨘᨓ ᨓᨊᨘᨕ ᨕᨛᨃ ᨔᨙᨕᨘᨓ ᨕᨊ ᨓᨚᨑᨚᨓᨊᨙ ᨑᨗᨕᨔᨛ ᨒ ᨈᨑᨙᨋᨙ ᨈᨛᨆᨀ ᨕᨌᨊ ᨆᨅᨗᨌᨑ᨞ ᨑᨙᨀᨚ ᨑᨗᨕᨙᨓᨕᨗ ᨕᨉ ᨑᨗᨈᨕᨘ ᨕᨙᨓᨙ ᨊᨑᨗᨓᨙᨑᨙ ᨕᨉ ᨆᨔᨒ ᨉᨙ ᨈᨛᨊ ᨅᨒᨗᨊ᨞ ᨔᨆᨊ ᨑᨗᨈ ᨈᨛᨊ ᨄᨗᨀᨗᨑᨗᨀᨗ ᨈᨛᨊ ᨊᨓᨊᨓᨕᨗ ᨕᨉᨕᨙ ᨆᨔᨘ ᨄᨚᨒᨙ ᨑᨗ ᨈᨗᨆᨘᨊ᨞ Ri sEuwa wanua engka sEuwa ana’ worowanE riaseng La TarEnrE temmaka accana mabbicara. REkko riEwai ada ritau EwE nariwErEng ada masala dE tennabalinna. Samanna rita tennang pikkiriki, tenna nawa-nawai adaE massu pole ri timunna. Di sebuah negeri ada seorang anak laki-laki yang bernama La Tarenrek yang begitu pandai berbicara. Jika ada orang yang berbicara dengannya tentang suatu masalah, niscaya dijawabnya. Seolah-olah, kata-katanya keluar dari mulutnya tanpa berfikir ataupun cemas. ᨊᨕᨗᨕᨑᨚ ᨓᨊᨘᨕ ᨊᨕᨚᨋᨚᨕᨗᨕᨙ ᨑᨗᨕᨓ ᨄᨑᨙᨈᨊᨕᨗ ᨔᨙᨕᨘᨓ ᨕᨑᨘ ᨆᨒᨚᨒᨚ ᨊᨆᨌᨈᨚ ᨆᨅᨗᨌᨑ ᨊᨆᨎᨆᨛ ᨀᨗᨊᨗᨊᨓ ᨑᨗᨄᨉᨊ ᨈᨕᨘ᨞ ᨊᨆᨒᨇᨙ ᨄᨗᨀᨗᨑᨗᨊ ᨔᨗᨅᨓ ᨄᨀᨗᨈ ᨑᨗᨆᨘᨋᨗᨊ᨞ ᨕᨁ ᨊᨑᨗᨕᨙᨒᨚᨑᨗ ᨔᨛᨊ ᨕᨗ ᨑᨗᨈᨚᨄᨅᨊᨘᨕᨕᨙ ᨕᨗᨕᨆᨊᨛ᨞ Naiaro wanua naonroiE riawa parEntanai sEuwa arung malolo namaccato mabbicara namanyameng kininnawa ripadanna tau. NamalampE pikkiri’na sibawa pakkita rimunrinna. Aga nariElori senna’i ritopabbanuaE iamaneng. Adapun negeri asalnya, berada dibawah perintah seorang Raja muda yang juga pandai berbicara dan juga baik hati kepada sesama manusia. Ia juga memiliki pemikiran jauh kedepan dan juga pertimbangan-pertimbangan yang matang. Oleh sebab itu, ia dicintai oleh semua penduduk. ᨊᨃᨒᨙᨂᨊ ᨑᨗᨄᨕᨘᨄᨕᨘ ᨕᨆᨌᨊ ᨒ ᨈᨑᨙᨋᨙ ᨁᨃᨊ ᨊᨃᨒᨗᨂᨈᨚᨊ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ᨞ ᨊᨊᨓᨊᨓᨊᨗ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ ᨆᨕᨙᨒᨚᨕᨙ ᨆᨙᨓᨕᨗ ᨆᨅᨗᨌᨑ ᨒ ᨈᨑᨙᨋᨙ᨞ ᨊᨑᨙᨀᨚ ᨊᨕᨘᨒᨙᨕᨗ ᨊᨅᨒᨗ ᨆᨊᨛ ᨆᨔᨛᨕᨒ ᨑᨗᨓᨛᨑᨙᨕᨗ ᨕᨘᨓᨒᨕᨗ ᨄᨀᨒᨗ ᨕᨙᨄᨘ ᨊᨕᨗᨕᨊ ᨆᨈᨗ ᨈᨘᨃᨛᨕᨗ ᨄᨔᨘᨑᨚᨀᨘ᨞ Nakkalengana ripau-pau ammaccana La TarEnrE gangkanna nangkalingatona arung E. Nanawa-nawani arung E maEloE mEwai mabbicara La TarEnrE. NarEkko naullEi nabali maneng maseala riwerEng’i, uwalai pakkalawi Epu naiama matti tungke’i passuroku. Kepandaian La Tarenrek pun tersebar hingga sampai pada kepada Raja. Raja pun berencana untuk mengajak La Tarenrek berbicara. “Jika dia mampu menjawab masalah yang aku berikan kepadanya, saya angkat dia menjadi Pakkawali Epu yang nantinya akan mengepalai pesuruhku” ᨕᨁ ᨆᨔᨘᨑᨚ ᨈᨇᨕᨗᨊᨗ ᨒ ᨈᨑᨙᨋᨙ᨞ ᨊᨕᨗᨕ ᨕᨛᨃᨊᨊ ᨒᨈᨑᨙᨋᨙ ᨕᨘᨓᨕᨙᨃᨒᨗᨂᨕᨗ ᨀᨑᨙᨅ ᨆᨀᨛᨉ ᨈᨛᨆᨀ ᨕᨌᨆᨘ ᨁᨑᨙ ᨆᨅᨗᨌᨑ ᨔᨗᨅᨓ ᨆᨄᨅᨒᨗ ᨕᨉ᨞ ᨕᨁ ᨆᨀᨚᨀᨚᨕᨙ ᨆᨕᨙᨒᨚᨀ ᨆᨘᨄᨕᨘᨕ ᨆᨀ ᨔᨗᨕᨁᨑᨚ ᨕᨙᨁᨊ ᨓᨗᨈᨚᨕᨙ ᨑᨗ ᨒᨂᨗ᨞ Aga massuro tampaini La TarEnrE. Naia engkanana La TarEnrE uwEngkalingai karEba makkeda temmaka accamu garE mabbicara sibawa mappabali ada. Aga makkokkoE maEloka mupauwang maka siagaro Egana wittoEng ri langi. Raja kemudian memerintahkan pesuruhnya untuk memanggil La Tarenrek. Dan ketika La Tarenrek berada di hadapan Raja, Raja pun berkata. “Hai La Tarenrek, aku mendengar kabar bahwa engkau teramat pandai berbicara dan juga menjawab pertanyaan. Oleh karena itu, sekarang, aku ingin engkau mengatakan kepadaku, berapa banyak bintang di langit?”. ᨆᨀᨛᨉᨊᨗ ᨒᨈᨑᨙᨋᨙ ᨕᨊᨘ ᨆᨁᨇ ᨆᨘᨕᨈᨘ ᨄᨘᨕ᨞ ᨈᨓᨙᨑᨙᨊ ᨆᨕᨗ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ ᨔᨗᨒᨇ ᨀᨑᨛᨈᨔ ᨄᨘᨈᨙ ᨔᨗᨅᨓ ᨍᨑᨘ ᨔᨗᨄᨛᨄ᨞ ᨊᨕᨗᨕ ᨕᨛᨃᨊᨊ ᨕᨊᨘ ᨊᨕᨙᨒᨕᨘᨕᨙ ᨊᨄᨒᨛᨅᨊᨗ ᨒ ᨈᨑᨙᨋᨙ ᨀᨑᨛᨈᨔ ᨕᨙ ᨊᨕᨗᨊᨄ ᨊᨈᨚᨉᨚᨈᨚᨉᨚ ᨍᨑᨘ ᨁᨃᨊ ᨄᨛᨊᨚ ᨀᨑᨛᨈᨔᨕᨙ᨞ ᨄᨘᨑᨕᨗ ᨊᨓᨙᨑᨙᨊᨗ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ ᨊᨕᨗᨊᨄ ᨆᨀᨛᨉ ᨈᨑᨙᨀᨙᨊᨗ ᨄᨘᨕ ᨕᨙᨁᨊ ᨔᨛᨅᨚᨔᨛᨅᨚ ᨕᨙ ᨔᨗᨅᨓ ᨕᨛᨃᨕᨙ ᨑᨗ ᨀᨑᨛᨈᨔ ᨕᨙ ᨔᨗᨀᨚᨈᨚᨊᨗᨈᨘ ᨄᨘᨕ ᨕᨙᨁᨊ ᨓᨗᨈᨚᨕᨙ ᨑᨗ ᨒᨂᨗᨕᨙ᨞ ᨆᨀᨛᨉᨊᨗ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ ᨊᨗᨁᨔ ᨈᨕᨘ ᨆᨀᨘᨒᨙ ᨅᨗᨒᨕᨗ ᨔᨛᨅᨚᨔᨛᨅᨚ ᨆᨘᨕᨗᨋᨘ ᨕᨙᨓᨙ᨞ ᨆᨀᨛᨉᨊᨗ ᨒ ᨈᨑᨙᨋᨙ ᨊᨗᨁᨈᨚᨔ ᨄᨘᨕ ᨈᨕᨘ ᨆᨀᨘᨒᨙ ᨅᨗᨒᨕᨗ ᨓᨗᨈᨚᨕᨙ ᨕᨙ ᨑᨗ ᨒᨂᨗᨕᨙ᨞ ᨊᨆᨌᨓᨊᨗ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ ᨆᨕᨙᨃᨒᨗᨂ ᨕᨗ ᨕᨉᨊ ᨒ ᨈᨑᨙᨋᨙ᨞ Makkedani La TarEnrE anu magampang muatu puang. TawErEngna mai arungE silampa karettasa putE sibawa jarung sipeppa. Naia engkannana anu naEllauE napallebba’ni La TarEnrE karettasaE nainappa natoddo’-toddo’ jarung gangkanna penno karettasaE. Purai nawErEng ni arung E nainappa makkeda tarEkEngni puang Egana sebbo’-sebbo’E sibawa engkaE ri karettasaE, sikotonitu puang Egana wittoEng ri langiE. Makkedani arung E nigasa tau makkullE bilang’i sebbo’-sebbo’ muinru EwE. Makkedani La TarEnrE nigatosa puang tau makkullE bilang’i wittoEng E ri langiE. Namacawani arung E maEngkalinga i adanna La TarEnrE. La Tarenrek kemudian menjawab, “itu adalah perkara yang mudah, Tuanku. Berilah hamba selembar kertas putih dan juga sebilah jarum”. Setelah La Tarenrek mendapatkan yang dimintanya, ia kemudian membentangkan kertas tersebut dan melubang-lubangi kertas dengan jarum hingga penuh. Setelah itu, diberikannya kertas tersebut kepada Raja sambil berkata, “Silahkan tuanku munghitung banyaknya lubang jarum yangada pada kertas itu, sebanyak itulah banyaknya bintang di langit”. Raja pun berkata, “Siapa pula yang bisa menghitung lubang-lubang yang engkau buat ini?”. La Tarenrek menjawab, “Jika demikian kata Tuanku, siapa juga yang dapat menghitung bintang di langit?”. Raja pun tertawa mendengarkan jawaban La Tarenrek. ᨕᨛᨃᨊ ᨔᨙᨕᨘᨓ ᨕᨛᨔᨚ ᨊᨒᨕᨚ ᨒ ᨈᨑᨙᨋᨙ ᨆᨗᨈᨕᨗ ᨀᨒᨘᨀᨘᨊ ᨕᨛᨃᨊ ᨈᨘᨓᨚ ᨑᨗ ᨓᨗᨑᨗᨊ ᨔᨒᨚᨕᨙ᨞ ᨊᨕᨗᨈᨊᨗ ᨆᨀᨛᨉᨕᨙ ᨆᨈᨚᨓ ᨆᨊᨛᨊᨗ ᨅᨘᨕᨊ᨞ ᨕᨁ ᨆᨙᨇᨙᨊᨗ ᨔᨗᨄᨚ ᨊᨕᨗᨕᨊᨑᨚ ᨓᨛᨈᨘ ᨔᨗᨈᨘᨍᨘᨕ ᨈᨚᨕᨗ ᨕᨛᨃᨊ ᨒᨒᨚ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ ᨆᨒᨚᨄᨗᨒᨚᨄᨗ ᨔᨗᨅᨓ ᨒᨗᨔᨛ ᨅᨚᨒᨊ ᨑᨗᨔᨛᨉᨙᨊᨑᨚ ᨀᨒᨘᨀᨘ ᨊᨕᨙᨇᨙ ᨕᨙ ᨒ ᨈᨑᨙᨋᨙ᨞ ᨊᨕᨗᨑᨗᨈᨊ ᨑᨗ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ ᨆᨀᨛᨉᨊᨗ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ ᨕᨙ ᨈᨑᨙᨋᨙ ᨕᨈᨘᨈᨘᨀᨚ ᨆᨙᨇᨙ᨞ ᨊᨔᨅ ᨕᨗᨕᨈᨘ ᨑᨙᨀᨚ ᨆᨈᨛᨑᨘᨀᨚ ᨆᨙᨋᨙ ᨆᨈᨙᨕᨗ ᨕᨅᨚᨆᨘ᨞ ᨊᨕᨗᨀᨗᨕ ᨑᨙᨀᨚ ᨒᨗᨔᨘᨀᨚ ᨊᨚ ᨆᨈᨙᨈᨚᨔᨗ ᨕᨗᨉᨚᨆᨘ᨞ ᨊᨌᨅᨙᨑᨘᨊ ᨒ ᨈᨑᨙᨋᨙ ᨆᨃᨒᨗᨂᨕᨗ ᨕᨉᨊ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ ᨊᨕᨗᨊᨄ ᨆᨀᨛᨉ ᨕᨙ ᨄᨘᨕ ᨕᨘᨓᨙᨒᨚᨑᨛ ᨈᨚᨔᨗ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ ᨕᨍ ᨊᨆᨌᨄ ᨆᨒᨚᨄᨗ ᨊᨔᨅ ᨕᨗᨕ ᨑᨗᨄᨒᨗᨑᨀᨗᨑᨀᨘ ᨑᨙᨀᨚ ᨆᨈᨛᨑᨘᨕᨗ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ ᨔᨙᨇᨛ ᨆᨔᨘ ᨑᨗ ᨈᨔᨗᨕᨙ ᨒᨅᨘᨕᨗ ᨒᨚᨄᨗᨊ᨞ ᨊᨕᨗᨕᨀᨗᨕ ᨑᨙᨀᨚ ᨒᨗᨔᨘᨕᨗ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ ᨆᨊᨛᨔᨊᨗ ᨆᨑᨛᨄᨊ ᨒᨚᨄᨗ ᨕᨙ᨞ ᨊᨆᨌᨓ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ ᨆᨀᨛᨉ ᨕᨈᨗᨊ ᨑᨗ ᨒᨕᨒᨛ ᨆᨄᨚᨋᨚ ᨕᨉ ᨈᨚᨂᨛ ᨒ ᨈᨑᨙᨋᨙ ᨔᨆᨊᨆᨊᨗ ᨑᨗᨈ ᨕᨘᨓᨕᨙ ᨆᨌᨚᨒᨚ ᨕᨉᨕᨉᨊ᨞ ᨊᨄᨈᨛᨑᨘᨊᨗ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ ᨒᨚᨄᨗᨊ ᨊᨕᨙᨇᨙᨈᨚᨊ ᨆᨙᨋᨙ ᨒ ᨈᨑᨙᨋᨙ᨞ engkana sEuwa esso nalao La TarEnrE mitai kalukunna engkana tuwo ri wirinna saloE. Naitani makedaE matowa manengni buana. Aga mEmpEni sipong, naianaro wettu situjuang toi engkana lalo arung E mallopi-lopi sibawa lise’ bolana riseddEnaro kaluku naEmpE E La TarEnrE. Nairitana ri arung E makkeda ni arung E, E… TarEnrE atutuko mEmpE. Nasaba iatu rEkko materuko mEnrE, matEi ambo’mu. Naikia rEkko lisuko no matEtosi indo’mu. NacabbEruna La TarEnrE mangkalingai adanna arung E nainappa makkeda. E… puang, uwEloreng tosi arung E aja namacapa mallopi nasaba ia ripalirakirakku rEkko matterui arung E sEmpe’ massu ri tasiE labui lopinna. Naiakia rEkko lisui arung E manessani mareppana lopi E. Namacawa arung E makkeda atinna ri laleng mapponro ada tongeng La TarEnrE samannamani rita uwaE maccolo ada-adanna. Napatteruni arung E lopinna naEmpEtona mEnrE La TarEnrE. Pada suatu hari,La Tarenrek pergi melihat kebun kelapanya yang ada dipinggiran sungai. Dilihatnya buah kelapanya sudah tua semua. Dia pun memanjat sebuah batang kelapa, yang kebetulan pada waktu itu Raja dan keluarganya sedang naik perahu di dekat kelapa yang dipanjat oleh La Tarenrek. Raja pun melihat La Tarenrek, kemudian berkata. “Hai Tarenrek, berhati-hatilah memanjat. Sebab, jika engkau berani ke atas, ayahmu mati. Dan jika engkau turun, ibumu mati” La Tarenrek kemudian cabbEru[1] mendengar kata-kata raja, kemudian berkata “Tuanku, Saya berharap tuanku juga berhati-hati naik perahu sebab menurut pandanganku, Jika baginda terus berlayar, perahu baginda akan tenggelam. Akan tetapi, jika baginda kembali, pastilah perahu baginda akan pecah” Tertawalah Raja, dalam hatinya membenarkan bahwa La Tarenrek mengatakan apa yang benar-benar ia rasakan, seolah perkatannya bagaikan air yang mengalir. Raja pun melanjutkan pelayarannya dan La Tarenrek kembali terus memanjat. ᨊᨕᨗᨕ ᨒᨛᨈᨘᨊ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ ᨑᨗ ᨅᨚᨒᨊ ᨆᨔᨘᨑᨚᨕᨗ ᨍᨑᨘ ᨈᨛᨒᨘ ᨄᨛᨄ ᨒᨕᨚ ᨑᨗ ᨅᨚᨒᨊ ᨒᨈᨑᨙᨋᨙ᨞ ᨆᨕᨙᨒᨚᨕᨗ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ ᨑᨗᨕᨅᨘᨑᨛ ᨅᨃᨘ ᨒᨇᨙ ᨊᨔᨅ ᨆᨕᨙᨒᨚᨕᨗ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ ᨆᨙᨅᨘ ᨁᨘᨒᨗ ᨊᨔᨅ ᨆᨄᨚᨒᨚᨕᨗ ᨁᨘᨒᨗᨊ ᨒᨚᨄᨗᨊ᨞ ᨆᨀᨛᨉᨊᨗ ᨒ ᨈᨑᨙᨋᨙ ᨑᨗ ᨔᨘᨑᨚᨊ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ ᨕᨙ ᨔᨘᨑᨚ ᨄᨒᨛᨈᨘᨀᨛ ᨒᨒᨚᨕᨗ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ ᨆᨀᨛᨉ ᨕᨙ ᨊᨉᨇᨛᨂ ᨒᨒᨚᨕ ᨊᨔᨅ ᨉᨙ ᨄᨀᨘᨒᨙᨀᨘ ᨆᨙᨅᨘᨑᨛᨕᨗ ᨕᨗᨕᨙ ᨓᨛᨈᨘᨕᨙ ᨊᨔᨅ ᨕᨆᨈᨙᨂ᨞ ᨆᨈᨙᨕᨗ ᨅᨛᨀᨘ ᨍᨓᨀᨘ ᨊᨔᨅ ᨒᨙᨅᨄᨗ ᨊᨑᨄᨗᨀᨗ ᨑᨗᨕᨒ ᨈᨛᨒᨘᨊ ᨊᨆᨕᨙᨒᨚᨈᨚ ᨀᨘᨕᨒ ᨄᨗᨈᨘᨊ᨞ ᨆᨌᨓᨊᨗ ᨔᨘᨑᨚᨕᨙ ᨆᨀᨛᨉ ᨕᨊᨘ ᨈᨛᨔᨗᨈᨗᨊᨍᨈᨘ ᨕᨗᨀᨚ ᨆᨘᨄᨕᨘ᨞ ᨅᨛᨀᨘᨆᨘ ᨆᨈᨙ ᨆᨙᨒᨚᨔᨗ ᨑᨗᨅᨗᨒᨇᨛᨊᨗ᨞ ᨆᨀᨛᨉᨊᨗ ᨒ ᨈᨑᨙᨋᨙ ᨕᨊᨗ ᨈᨛᨔᨗᨈᨗᨊᨍᨈᨚ ᨊᨔᨘᨑᨚᨕ ᨕᨙ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ ᨆᨀᨛᨉ ᨈᨛᨒᨘ ᨄᨛᨄ ᨍᨑᨘ ᨆᨕᨙᨒᨚ ᨔᨙᨕᨘᨓ ᨅᨃᨘ ᨒᨇᨙ᨞ Naia lettu’na arung E ri bolana massuroi tiwi jarung tellu peppa lao ri bolana La TarEnrE. MaEloi arung E riabbureng bangkung lampE nasaba maEloi arung E mEbbu guli nasaba apa’ mapoloi gulinna lopinna. Makkedani La TarEnrE risurona arung E. E… suro, palettukeng laloi arung E makkeda E naddampengenglaloa nasaba dE pakkullEku mEbbureng i iE wettuE nasaba amatengnga. MatEi bekku jawaku nasaba lEbapi narapiki riala tellunna namaElo’to kuala pitunna. Macawani suroE makkeda anu tessitinajatu iko mupau. Bekkumu matE mElo’si ribilangpenni. Makkedani La TarEnrE anu tessitinajato nassuroang E arung E makkeda tellu peppa jarung maElo sEuwa bangkung lampE. Ketika Raja sampai di kediamannya, dia memerintahkan pesuruhnya untuk membawakan tiga batang jarum ke rumah La Tarenrek. Raja ingin dibuatkan sebilah parang panjang yang akan ia gunakan untuk membuat kemudi perahu yang baru sebab kemudi perahunya patah. La Tarenrek pun berkata kepada pesuruh raja, “Pesuruh Tuanku, sampaikan kepada baginda agar beliau memaafkan hamba sebab hamba tidak mampu memenuhi permintaan beliau pada saat ini sebab saya sedang berkabung. Burung tekukur Jawa hamba mati dan besok adalah peringatan hari ketiga kematiannya, kemudian hamba berniat memperingati hari ketujuhnya” Pesuruh Raja tertawa dan mengatakan, “Engkau mengatakan sesuatu yang tidak pantas tidak masuk akal. Burung tekukurmu yang mati pun engkau mau hitung malam” La Tarenrek pun mengatakan, “Hal yang baginda perintahkan pun, membuat sebilah parang panjang dari tiga batang jarum, adalah hal yang tidak masuk akal.” ᨊᨑᨙᨓᨛᨊ ᨔᨘᨑᨚᨕᨙ ᨒᨕᨚ ᨑᨗ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ ᨊ ᨊᨄᨒᨛᨈᨘᨊ ᨔᨗᨊᨗᨊ ᨕᨉᨊ ᨒ ᨈᨑᨙᨋᨙ᨞ ᨆᨀᨛᨉᨊᨗ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ ᨕᨗᨕᨈᨘ ᨒ ᨈᨑᨙᨋᨙ ᨈᨕᨘ ᨆᨌᨊ ᨄᨋᨗᨈ ᨕᨉᨕᨉ᨞ ᨊᨕᨙ ᨆᨕᨙᨒᨚ ᨆᨘᨄ ᨌᨚᨅᨕᨗ ᨔᨗᨔᨛᨄ᨞ ᨊᨑᨙᨀᨚ ᨆᨅᨒᨗᨓᨗ ᨁᨕᨘᨀᨘ ᨕᨗᨕᨕᨙ ᨔᨗᨔᨛ ᨕᨙ ᨕᨘᨓᨒᨈᨚᨂᨛᨕᨗ ᨄᨀᨒᨓᨗ ᨕᨙᨄᨘ᨞ NarEwe’na suroE lao ri arung E na napalettu’na sininna adanna La TarEnrE. Makkedani arung E, iatu La TarEnrE tau maccana panrita ada-ada. NaE maElo’ mupa cobai siseppa. NarEkko mabbaliwi gau’ku iaE siseng E uwalatongeng i pakkalawi Epu. Pesuruh Raja pun pulang, menyampaikan segala perkataan La Tarenrek kepada Raja. Raja pun berkata bahwa La Tarenrek itu orang pandai berkata-kata. Namun, ia masih ingin menguji La Tarenrek sekali lagi. “Apabila ia mampu membalas pekerjaannya sekali ini, maka ia benar-benar akan kuangkat sebagai pakkalawi Epu2.” ᨆᨀᨛᨉᨊᨗ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ ᨑᨗ ᨔᨘᨑᨚᨕᨙ ᨒᨕᨚᨀᨚ ᨄᨕᨗᨆᨛ ᨑᨗ ᨅᨚᨒᨊ ᨒ ᨈᨑᨙᨋᨙ ᨆᨘᨈᨗᨓᨗᨑᨛᨕᨗ ᨅᨙᨅᨙ ᨒᨕᨗ ᨔᨗᨀᨍᨘ ᨊᨆᨘᨕᨀᨛᨉ᨞ ᨆᨕᨙᨒᨚ ᨕᨙᨁᨂᨗ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ ᨆᨗᨊᨘ ᨉᨉᨗ ᨅᨙᨅᨙ᨞ ᨕᨁᨑᨚ ᨔᨗᨀᨍᨘ ᨅᨙᨅᨙ ᨒᨕᨗ ᨊᨔᨘᨑᨚ ᨑᨗᨈᨗᨓᨗᨑᨛᨀᨚ᨞ ᨊᨕᨙᨒᨚᨑᨛᨕᨗ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ ᨆᨘᨄᨛᨑ ᨔᨘᨔᨘᨊ ᨊᨆᨘᨈᨗᨓᨗᨑᨛᨕᨗ ᨅᨍ ᨆᨕᨙᨒᨙ ᨑᨗ ᨅᨚᨒᨊ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ᨞ ᨄᨘᨑᨕᨗ ᨊᨄ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ ᨒᨕᨚᨊᨗ ᨔᨘᨑᨚᨕᨙ ᨑᨗ ᨅᨚᨒᨊ ᨒ ᨈᨑᨙᨋᨙ ᨈᨗᨓᨗ ᨅᨙᨅᨙ ᨒᨕᨗ ᨔᨗᨀᨍᨘ ᨊᨊᨄᨒᨛᨈᨘ ᨈᨚᨊ ᨔᨗᨊᨗᨊ ᨄᨔᨛᨊ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ᨞ ᨄᨘᨑᨕᨗ ᨑᨗᨈᨘ ᨒᨗᨔᨘᨊᨗ ᨔᨘᨑᨚᨕᨙ ᨒᨕᨚ ᨑᨗ ᨅᨚᨒᨊ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ᨞ Makkedani arung E ri suroE laoko paimeng ri bolana La TarEnrE mutiwireng i bEmbE’ lai sikaju namuakkeda. MaElo Egangngi arung E minung dadi bEmbE’. Agaro sikaju bEmbE’ lai nasuro ritiwirekko. NaElorengngi arung E mupera susunna namutiwirengngi baja maElE ri bolana arung E. Purai nappa arung E laoni suroE ri bolana La TarEnrE tiwi bEmbE lai sikaju nanapalettu tona sininna pasengna arung E. Purai ritu lisuni suroE lao ri bolana arung E. Raja pun memerintahkan kepada pesuruhnya, “pergilah kembali ke rumah La Tarenrek, bawalah seekor kambing jantan lalu katakan padanya bahwa Raja sangat ingin meminum susu kambing. Oleh karena itu, Raja mengirimkanmu kambing jantan. Raja ingin agar engkau mengambil susunya kemudian membawanya kepada Raja di kediamannya esok pagi” Setelah itu, pergilah pesuruh Raja ke rumah La Tarenrek membawa seekor kambing jantan dan juga menyampaikan semua perintah Raja. Kemudian, ia kembali ke kediaman Raja. ᨊᨕᨗᨕ ᨒ ᨈᨑᨙᨋᨙ ᨒᨕᨚ ᨈᨚᨊᨗ ᨆᨒ ᨀᨒᨘᨀᨘ ᨈᨚᨓ ᨔᨗᨕᨅᨈᨘ ᨕᨑᨙ ᨊᨕᨗᨊᨄ ᨊᨄᨛᨄ᨞ ᨊᨄᨑᨘ ᨊᨅᨘᨕᨗ ᨔᨈ᨞ ᨕᨁ ᨊᨑᨄᨗᨀᨗ ᨕᨙᨒᨙ ᨆᨚᨈᨚᨊᨗ ᨊᨄ ᨊᨈᨘᨄ ᨆᨊᨛ ᨔᨈ ᨄᨘᨑᨕᨙ ᨊᨕᨙᨅᨘ ᨑᨗᨕᨔᨛᨊ ᨈᨄᨙᨑᨙ ᨕᨙ᨞ ᨊᨆᨑᨗᨌ ᨆᨊᨛᨊ ᨈᨄᨙᨑᨙᨊ ᨔᨗᨅᨓ ᨆᨆᨙᨎᨊ ᨊᨈᨑᨚ ᨔᨈ᨞ ᨊᨕᨗᨊᨄ ᨈᨘᨉ ᨕᨀᨚᨑᨚ ᨈᨍᨛᨕᨗ ᨔᨘᨑᨚᨊ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ᨞ ᨊᨔᨅ ᨈᨛᨆᨕᨙᨒᨚᨕᨗ ᨒᨕᨚ ᨊᨑᨙᨀᨚ ᨉᨙ ᨊᨑᨗᨕᨚᨅᨗ ᨑᨗ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ᨞ ᨈᨛᨆᨕᨗᨈᨕᨗ ᨕᨛᨃᨊᨗ ᨄᨚᨒᨙ ᨔᨘᨑᨚᨊ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ ᨈᨇᨕᨗᨓᨗ ᨒ ᨈᨑᨙᨋᨙ᨞ ᨊᨕᨙᨋᨙᨊ ᨒ ᨈᨑᨙᨋᨙ ᨆᨂᨚᨒᨚ ᨑᨗ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ᨞ Naia La TarEnrE lao toni mala kaluku towa siabbatu arE nainappa napeppa. Naparu nabbui santang. Aga narapiki ElE moto’ni nappa natuppa maneng santang puraE naEbbu riase’na tappErE E. Namarica manengna tappErEna sibawa mammEnynya’na nataro santang. Nainappa tudang akkoro, tajeng i surona arung E. Nasaba temmaEloi lao narEkko dE nariobbi ri arung E. Temmaittai engkani polE surona arung E tampaiwi La TarEnrE. NaEnrE’na La TarEnrE mangolo ri arung E. La Tarenrek kemudian pergi mengambil beberapa buah kelapa tua yang kemudian ia pecahkan. Ia parut dan dibuatnya santan. Pagi pun tiba, La Tarenrek kemudian bangun dan menumpahkan seluruh santan yang telah dibuatnya di atas tappere tikar anyaman dari daun lontar. Tikar tersebut kemudian basah dan berminyak karena santan yang ditumpahkan. Ia kemudian duduk, diatasnya dan menunggu pesuruh Raja. Sebab ia tak ingin pergi, kecuali Raja memangngilnya. Tak lama berselang, datanglah pesuruh Raja memanggil La Tarenrek. La Tarenrek pun menghadap kepada Raja. ᨆᨀᨛᨉᨊᨗ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ ᨆᨁᨗ ᨊᨉᨙ ᨆᨘᨈᨗᨓᨗᨑᨛᨂ ᨉᨉᨗ ᨊᨕᨛᨃ ᨔᨗᨀᨍᨘ ᨅᨙᨅᨙ ᨒᨕᨗ ᨕᨗᨕᨔᨘᨑᨚ ᨈᨗᨓᨗᨑᨛᨀᨚ᨞ ᨆᨀᨛᨉᨊᨗ ᨒ ᨈᨑᨙᨋᨙ ᨕᨛᨃᨊ ᨄᨘᨕ ᨉᨉᨗ ᨕᨘᨓᨒᨀᨗ ᨕᨘᨄᨑᨗᨀᨈᨚᨕ ᨑᨗ ᨕᨔᨛᨊ ᨈᨄᨙᨑᨙᨀᨘ ᨑᨗ ᨅᨚᨒᨕᨙ᨞ ᨊᨄᨘᨒᨙᨆᨘᨊ ᨕᨅᨚᨀᨘ ᨆᨙᨆᨊ ᨑᨗᨕᨙᨒᨙᨀᨙᨒᨙᨕᨙ ᨊᨀᨘᨈᨀᨗᨊᨗ ᨀᨘᨒᨘᨄᨛ ᨆᨕᨙᨒᨚ ᨈᨘᨒᨘ ᨕᨗ ᨊᨕᨘᨀᨛᨊ ᨓᨗᨑᨗᨊ ᨀᨈᨚᨕ ᨕᨙ ᨊᨈᨈᨘᨄ ᨆᨊᨛ ᨉᨉᨗᨕᨙ᨞ ᨊᨑᨙᨀᨚ ᨈᨛᨆᨈᨛᨄᨛᨕᨗ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ ᨈᨑᨚᨕᨗ ᨊᨔᨘᨑᨚ ᨕᨗᨈ ᨊᨔᨘᨑᨚ ᨄᨑᨙᨔ ᨈᨄᨙᨑᨙᨀᨘ ᨑᨗ ᨅᨚᨒᨕᨙ᨞ ᨆᨑᨗᨌ ᨆᨊᨛ ᨊᨄᨀᨘᨕ ᨉᨉᨗ ᨈᨈᨘᨄᨕᨙ ᨉᨙᨋᨙ᨞ Makkedani arung E magi nadE mutiwirengnga dadi naengka sikaju bEmbE lai iasuro tiwirekko. Makkedani La TarEnrE engkana puang dadi uwalakki uparikatoang ri asena tappErEku ri bolaE. NapulEmuna ambo’ku mEmmana’ riElEkElE E, nakutakkini kuluppe maElo tulungngi naukenna wiringna katoang E natattuppa maneng dadi’E. NarEkko temmateppe’i arung E taroi nasuro ita nasuro paressa tappErEku ri bolaE. Marica maneng napakkua dadi tattuppaE dEnrE. Raja pun berkata, “mengapa engkau tidak membawakanku susu, padahal aku sudah memerintahkan untuk mengirimimu seekor kambing jantan”. La Tarenrek menjawab, “hamba sudah mengambil susu untuk Tuanku, aku menyimpannya di dalam loyang secara literal = baskom yang hamba simpan di atas tikar di rumah hamba. Tiba-tiba ayah hamba melahirkan dipagi hari, dan hamba pun terkejut kemudian meloncat untuk menolongnya yang akhirnya hamba menyenggol pinggiran loyang dan tumpahlah seluruh susu yang telah hamba kumpulkan. Jika Tuanku tidak percaya, biarlah Tuanku memerintah seseorang untuk memeriksa tikar hamba di rumah. Tikar hamba seluruhnya basah karena susu yang tertumpah tadi.” ᨊᨆᨌᨓ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ ᨈᨛᨂᨗᨂᨗᨊ ᨊᨕᨘᨒᨙ ᨆᨛᨈᨙ ᨕᨙ᨞ ᨊᨔᨗᨔᨛᨊ ᨆᨛᨈᨙ ᨆᨀᨛᨉ ᨆᨘᨊᨗᨕᨙ ᨒ ᨈᨑᨙᨋᨙ ᨒᨕᨚᨊᨚ ᨆᨕᨗ ᨆᨘᨕᨚᨋᨚ ᨑᨗ ᨅᨚᨒᨀᨘ ᨊᨔᨅ ᨆᨕᨙᨒᨚᨀ ᨆᨒᨀᨚ ᨄᨀᨒᨓᨗ ᨕᨙᨄᨘ ᨊᨕᨗᨀᨚᨊ ᨆᨈᨘ ᨈᨘᨃᨕᨗ ᨄᨔᨘᨑᨚᨀᨘ᨞ Namacawana arung E tengngingngina naullE mettE E. Nasissenna mettE makkeda muniE La TarEnrE laono mai muonro ri bolaku nasaba maElo’ka malako pakkalawi Epu naikona matu tungkai passuroku. Raja pun tertawa sampai tidak mampu berkata apa-apa. Kemudian Raja mengatakan, “La Tarenre, tinggallah di kediamanku karena aku ingin menjadikanmu pakkalawi Epu, engkaulah nanti yang akan mengasuh pesuruh-pesuruhku. ᨊᨔᨘᨍᨘᨊ ᨒ ᨈᨑᨙᨋᨙ ᨆᨙᨒᨕᨘ ᨔᨘᨀᨘᨑᨘ ᨑᨗ ᨄᨘᨕ ᨕᨒ ᨈᨕᨒ ᨆᨑᨛᨊᨘ ᨓᨙᨁ ᨆᨃᨒᨗᨂᨕᨗ ᨕᨉᨊ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ᨞ Nasuju’na La TarEnrE mEllau sukkuru ri Puang Alla Ta’ala marennu wEgang mangkalingai adanna arung E. La Tarenrek pun bersyukur kepada Allah Ta’ala, ia begitu bahagia mendengar perkataan Raja. Sumber Cerita disadur dari Sastra Bugis Klasik’ tulisan Nur Azizah Syahril yang diterbitkan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud, Jakarta tahun 1999 dengan berbagai perbaikan dan pengalihaksaraan yang saya lakukan sendiri. Saya bukanlah ahli sastra bahasa daerah, jadi mohon dimaklumi jika dalam penulisan Folklore ini masih terdapat kesalahan-kesalahan. Penjelasan [1] CabbEru CabbEru adalah ekspresi yang menunjukkan keinginan untuk menangis namun tidak sampai menangis yang ditandai dengan perubahan mimik mulut dan alis. CabbEru tidaklah sama persis dengan perasaan sedih yang sifatnya lebih ke psikologi. [2] Pakkalawi Epu Saya pribadi tidak begitu paham dengan kata ini. Namun saya berspekulasi kalau Pakkalawi Epu adalah semacam kepala pembantu yang berhubung langsung dengan Arung Raja/Bangsawan, dan bertugas membimbing pesuruh Raja. Jika Aksara Lontara tidak terinstal pada perangkat Anda, kemungkinan aksara lontara artikel ini tidak ditampilkan sama sekali. Untuk pengguna windows 10, Anda bisa mengintal bahasa bugis lewat setting language. Namun jika anda masih ingin membaca Folklore ini dalam aksara bugis, saya sudah menyediakannya dalam bentuk PDF. Silahkan download langsung disini
cerita rakyat bugis tulisan lontara